Jumat, 30 Desember 2011

Padamu Sahabat

Bismillah...

Ku ayun langkahku dengan sepenuh peluh yang menetes di kening. Semoga pertemuan hari ini mampu menjadi obat kerinduanku pada ukhuwah. Mencoba menantang mentari yang angkuh bersinar dengan teriknya. Hh, dia masih saja angkuh dengan sengatnya, masih tak berwelas asih dengan makhluk kecil ini. Tapi setidaknya aku bersyukur atas indah karunia yang Kau ciptakan pada kami ya Rabb sehingga dunia ini begitu terang, hanya hati kami yang masih merenda dalam kegelapan, tunjukkan pula sinar pada hati-hati kami ya Rabb. Aamiin.

Seperti pagi tadi, mimpi bahagiaku merenda rajutan benang-benang keimanan bersama sahabatku pupus sudah.
"Tuut...tuut...tuut..." nada sambung dari seberang. Ku coba menghubungi sahabatku, Dwi, berharap ia bisa mengikuti pertemuan akbar bersama kader al-Ishlah pagi ini.
"Hallo, ada apa cek..." terdengar suara lembut dari seberang setelah teleponku yang kelima.
"Hari ini tandingnya mulai jam berapa?" tanyaku.
"Jam 8 cek, ni juga barusan nyampek, kenapa cek?" cekgu, itu panggilan darinya untukku, sangat jauh dari nama asliku, hh,, ntahlah. Kadang-kadang nama panggilan lebih populer dari nama asli.
"Gak papa, aku boleh liat ya...
"Boleh banget. Emang acaranya mulai jam berapa cek?," tanyanya mengenai agenda temu kader hari ini.
"Jam 8, tapi sekarang aku lagi sarapan nih. Kamu dimana?"
"Di aula dinas. Belum ada orang tau cek. Aku datengnya kepagian nih. Saking semangatnya...hihi..."
"Iya, kalo acara begituan aja semangate puol, tapi coba acara untuk ruhiyah, datengnya males banget." kataku merujuk.
"Hehe, ya enggaklah cek. Cekgu masih dikosn kan?, aku kesana ya..."
"Iya,,," tut..tut..tut... dan teleponpun ditutup.
Ku amati lekat nasi di piringku bersama tempe goreng yang tinggal beberapa suap. Hh, andai kau tau, betapa aku merindu perjumpaan dengannya di majelis-majelis Allah. 
"Semoga usaha ku hari ini membawa kebermanfaatan." Gumamku pada butir-butir nasi yang menunggu giliran masuk ke penggilingan.

***

"Weh, berarti besok lanjut dong tandingnya? Menangin ya noq..." sapaku antusias menyambut kemenangannya mengalahkan lawan.
"Sip deh, tar kalo menang makan-makan deh, hehe. Tapi tadi tu gak ada apa-apanya tau cek. Keringetan aja enggak, apaan main badminton kok centil kaya gitu." jawabnya penuh optimis.
"Ya untungkan, berarti kesempatan menang makin besar, hehe. Em... kan tandingnya hari ni udah selesai, berarti bisa ikut TKP dong?" bujukku. Mencoba memasukkan dakwah fardhi-ku.
"Em, gak tau juga cek. Aku pengen liat lawan-lawanku, seberapa besar kemampuan mereka. Lagian aku nggak bawa rok item sama kado."
"Hem, itu mah emang alasan yang udah kamu rancang dari rumah." jawabku mewakili kekecewaan yang menggeliat di bilik-bilik hatiku.
Dia hanya diam tak bersuara. Disepanjang jalan menuju masjid itu kami hanya terdiam, tapi hati-hati kami saling berseteru. Oh Allah, runtuh sudah harapanku hari ini. Semoga ini bukan karena Kau tak menghendaki hidayah atasnya. Semoga bukan, semoga ini hanya masalah waktu dan proses. Semoga ya Allah...

Aku melepasnya dengan penuh ketidakrelaan, nafasku sesak dipenuhi rindu dan kekecewaan. Berharap suatu saat kita kan bersama dalam rajutan benang-benang ukhuwah islamiyah. Padukanlah hati kami dalam indahnya naungan cinta-Mu, bertemu dalam ketaatan, berpadau dalam kebenaran, menegakkan syariat-Mu dalam kehidupan. Kuatkanlah Ikatannya kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam, Ya Rabb Bimbinglah kami...Aamiin

Written at 17.30, Friday, 30 December 2011

Kamis, 29 Desember 2011

Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah

"Ukhwah(persaudaraan) itu bukan pada indahnya pertemuan,tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya," (Imam Al Ghazali) 

Ukhwah itu hakikatnya amat indah, terjalin di antara hati-hati nurani insan dan membuahkan rasa kasih dan sayang. Hadirnya bisa mendatangkan cinta Allah pada diri, andai ia berlandaskan apa yang telah Islam gariskan.

Pernahkah diri bertanya pada hati, mengapa aku berkawan dan bersahabat? Apa yang aku kejar dalam persahabatan sedemikian? Apakah ia bertiangkan keduniaan semata ataupun redha dan cinta Allah yang hakiki?

Bersahabatlah kerana Allah wahai diri. Jadikanlah pertemuan dan perpisahan itu juga kerana Allah. Jadikanlah Allah itu tujuan utamamu, bukan kerana material dan keduniaan semata-mata. Pasti diri akan menjadi sahabat sejati, dan juga ditemukan dengan sahabat sejati.

Firman Allah S.W.T: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat,” (Al Hujurat: 10)

Mungkin sudah tiba masanya untuk membenahi kembali niat andai ada sedikitnya yang sudah berbelok dari yang seharusnya, yang telah hanyut dengan keindahan dan nikmat dunia.

Andai persahabatan bertiangkan Ilahi, pasti ia disertai kejujuran dan redhaNya. Tiada istilah khianat menghianati, membohongi, terlebih menghina dan mencela. Tiada istilah dendam  dan apa saja tindakan yang bisa melukai hati sahabatnya.

Seorang bijak  berpesan kepada anak lelakinya: “Wahai anakku, sekiranya engkau merasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut:
  • Jika engkau berbakti kepadanya, dia akan melindungi kamu
  • Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas balik persahabatan kamu 
  • Jika engkau memerlukan pertolongan daripadanya, dia akan membantu kamu
  • Jika engkau menghulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, dia akan menerimanya dengan baik
  • Jika dia mendapat sesuatu kebajikan (bantuan) daripada kamu, dia akan menghargai atau menyebut kebaikan kamu
  • Jika dia melihat sesuatu yang tidak baik daripada kamu, dia akan menutupnya
  • Jika engkau meminta bantuan daripadanya, dia akan mengusahakannya
  • Jika engkau berdiam diri (kerana malu hendak meminta), dia akan menanyakan kesusahan kamu
  • Jika datang sesuatu bencana menimpa dirimu, dia akan meringankan kesusahan kamu
  • Jika engkau merancangkan sesuatu, nescaya dia akan membantu kamu
  • Jika kamu berdua berselisih faham, nescaya dia lebih senang mengalah untuk menjaga kepentingan persahabatan
  • Dia membantumu menunaikan tanggungjawab serta melarang melakukan perkara buruk dan maksiat
  • Dia mendorongmu mencapai kejayaan didunia dan akhirat.

Sayyidina Ali ra. mengatakan:

Jangan berkawan dengan orang yang tamak karena pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tetapi hakikatnya dia akan mencelakanmu.

Jauhilah berteman dengan pembohong karena ia boleh menjadikan orang yang dekat lari daripadamu dan sebaliknya.

Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil karena ia akan melupaimu di waktu kamu sangat memerlukan
Dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat kerana ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah.

Sahabat sejati bukan mudah untuk dicari. Mencari sahabat sejati bagaikan mencari sebiji benih yang terselit dalam semak berduri. Bersedialah untuk dilukai, namun jangan mengalah untuk terus mencari. Andai sudah kau temui, sayangilah dirinya sepenuh hati, dan suburilah ia dengan hati yang ikhlas dalam diri, agar dirimu juga menemui cinta Ilahi.

Andai dirimu menemui seorang sahabat, usahlah dirimu berpura-pura di hadapannya, hanya karena kamu mau diterimanya. Jangan dibiarkan dirimu diselubungi lakonan semata-mata, kerana akhirnya dirimu takkan mampu bertahan, kerana apa yang dizahirkan bukanlah dirimu yang sebenarnya.

Andai dua jiwa lain bentuknya, usahlah dipaksa untuk disatukan, gusar andai akhirnya ada yang terluka. Lepaskanlah dia pergi, dan bermohonlah kepadaNya agar kamu ditemukan dengan sahabat yang lebih baik dari sebelum ini.

“Sebaik baik sahabat disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya” (H.R. al-Hakim)

Dan salah satu kunci dalam persahabatan sejati ialah berlapang dada, namun untuk mencapainya tidak semudah bicara. Berlapanglah dada andai ada sahabatmu yang suka meniru apa saja gerak gerikmu. Berlapanglah dada andai ada sahabat yang ingin melepaskanmu, karena mungkin ada saja sebab musabab yang tidak kamu ketahui. Berlapanglah dada andai sahabatmu menemui sahabat yang lebih baik dan rapat berbanding denganmu.

“... dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahawa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)


Hargailah persahabatan yang ada andai ia bersulamkan keikhlasan dan kejujuran dan bertiangkan Ilahi semata-mata. Jangan sekadar mengharapkan agar dirimu menemui sahabat sejati, namun berusahalah juga untuk menjadi sahabat sejati.

Sahabat sejati akan turut merasa bahagia andai sahabatnya berjaya. Sahabat sejati akan tumpang gembira andai sahabatnya itu mendapat atau mempunyai sesuatu yang lebih baik darinya. Sahabat sejati akan senantiasa bersama sahabatnya, susah maupun senang.

Dan sahabat sejati sentiasa akan mengingatkanmu tentang Ilahi, dan juga menjadikanmu dan si Pencipta semakin dekat dan tiada secebis pun dalam hatinya perasaan cemburu terhadap sahabatnya, yakni ingin segala nikmat dan kebaikan itu hilang dari sahabatnya.
Ukhuwah Islamiyah
Bermuhasabahlah diri, apakah selama ini diri sudah menjadi sahabat sejati?

Berusahalah memperbaiki diri dari hari ke hari, agar hari ini lebih baik dari sebelumnya. Ikhlaskan hati kerana Allah, dan bersihkanlah hati dari segala perasaan yang kurang baik terhadap sahabat sendiri. Semoga Allah memelihara hati kita semua, dan mengurniakan persahabatan yang indah seindah-indahnya.

Mutiara Kata Buat Hati:

Selemah-lemah manusia ialah orang yang tidak boleh mencari sahabat. Dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mensia-siakan sahabat yang telah dicari (Saidina Ali)

Rabu, 07 Desember 2011

Pengaruh Ilmu dan Iman terhadap Tingkah Laku

Pengaruh Ilmu dan Iman terhadap Tingkah Laku

Pengaruh Ilmu dan Iman terhadap Tingkah Laku
  1. Ilmu memberi petunjuk kepada iman.
    Ilmu dan iman berjalan beriringan dalam Islam (Q.S. 30: 36, 58:11). Bahkan Al-Qur'an menyertakan iman kepada ilmu. Seseorang mengetahui lalu beriman. Dengan kata lain, tidak ada iman sebelum ada ilmu (Q.S. 22:54, Q.S. 34:6).

  2. Ilmu adalah penuntun amal
    Ilmulah yang menuntun, menunjuki dan membimbing seseorang kepada amal (47:19). Ayat ini dimulai degnan ilmu tentang tauhid lalu disusul dengan permohonan ampun yang merupakan amal. Ilmu juga merupakan timbangan/penentu dalam penerimaan atau penolakan amal. Amal yang sesuai dengan ilmu adalah amal yang diterima, sedangkan amal yang bertentangan dengan ilmu adalah amal yang tertolak (Q.S. 5:27) Maksud ayat ini ialah Allah hanya menerima amal seseorang yang bertakwa kepada-Nya. Jadi amal tersebut harus dilakukan karean keridhaan-Nya dan sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini hanya bisa dicapai dengan ilmu.
    Untuk dapat berakhlak baik pun salah satunya harus dicapai dengan ilmu. IMam Ghazali berkata, "Muqaddimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi tercapai diramu dengan tiga dimensi yang tersusun rapi, yaitu ilmu, perilaku, dan amal" (ilmu mewariskan perilaku,perilaku mendorong amal).
  3. Kelebihan ilmu dari ibadah.
    Dalam hadits Huzaifah dan Sa'ad, Rasulullah saw bersabda,"Kelebihan Ilmu lebih kusukai dari kelebihan ibadah, dan sebaik-baik agama adalah al wara." Ilmu dilebihkan atas ibadah sebab manfaat ilmu tidak terbatas pada pemiliknya melainkan juaga untuk orang lain. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Miftah menyebutakan diantaranya, "Ilmu menunjukkan kepada pemiliknya, amal-amal yang utama disisi Allah."
 Sumber: Super Mentoring 2
    Pengaruh Ilmu dan Iman terhadap Tingkah Laku

    Keutamaan Ilmu dan Orang-Orang Berilmu

    Keutamaan Ilmu dan Orang-Orang Berilmu

    Al-Quran adalah kitab terbesar yang mengangkat derajat ulul 'ilmi dan orang-orang yang berilmu. Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Ia menurunkan kitab-Nya dan merinci ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yng mengetahui.
    Keutamaan Ilmu dan Orang-Orang Berilmu

    Dalam Q.S. 3:18 Allh memulai pernyataan dari diri-Nya, memuji para malaikat-Nya dan orang yang diberi ilmu. Allah meminta kesaksian mereka atas permasalahan kehidurpan yang paling besar yaitu masalah keesaan.
    Allah swt dalam Al-Quran menjelaskn tentang keutamaan orang-orang yng berilmu:
    1. Q.S 39:9>>peniadaan persamaan antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui.
    2. Q.S. 35:19-22>> keboedohan sejajar dengan buta, ilmu sejajar dengan melihat, hingga bodoh adalah kematian dan ilmu adalah kehidupan.
    3. Q.S.35:28>>Ulama (orang yang mengetaui tentang kebesaran dan kekuasaan Allah ) kian berilmu kian takut kepada Allah.
    Keutamaan Ilmu dan Orang-Orang Berilmu

    Ilmu dan Urgensinya

    "Allah akan meninggikan derajat orang-korang yang beriman diantarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujaadilah:11)

    Ada empat tipe mental manusia, yaitu:
    Ilmu dan Urgensinya

    1. Manusia yang tahu, dan sadar bahwa ia tahu. Manusia seperti ini bijaksana, karena itu bertanyalah kepadanya.
    2. Manusia yang tahu, tapi tidak sadar bahwa ia tahu. Ingatkanlah dia agar ia jangan lalai.
    3. Manusia yang tidak tahu, dan sadar bahwa ia tidak tahu. Ajarilah ia.
    4. Manusia yang tidaak tahu, tapi berpura-pura tahu. Ia seorang yang bebal, karena itu menjauhlah daripadanya.
    Ilmu dan Urgensinya

     Perhatian Islam Terhadap Ilmu
    Manusia tidak pernah menemukan agama yang sangat memerhatikan keilmuan dengan sempurna selain Islam. Islam selalu menyeru dan memotivasi penekunan ilmu pengetahuan, mengajak umatnya untuk menuntut, memelajari, mengamalkan dan sekaligus mengajrkan ilmu. Islammenjelaskan keutamaan menuntut ilmu dan etikanya serta menegur orang yang tidak memerhatikannya. Islam juga sangat menghargai ahli ilmu dan menganjurkan umatnya untuk dekat dengan mereka.
    Dalam kamus yang memuat kosa kata Al-Qur'an, dinyatakan bahwa kata 'Ilm (ilmu) disebutkan sebanyak 80 kali, dan kata-kata yang terbentuk dari kata tersebut (seperti a'lamu, ya'lamuna, dsb) disebutkan beratus-ratus kali. Selain itu, juka kita teliti buku-buku hadits Nabawi akan kita temukan di dalamnya judul-judul dan masalah-masalah tentang ilmu.
    Ilmu dan Urgensinya


    Aspek-Aspek Ilmu dalam Pandangan Islam

    Ilmu dalam pandangan Islam mencakup beberapa aspek kehidupan termasukaspek ilmu dalam pengertian  Barat sekarang.
    1. Aspek wahyu Ilahi
      Ilmu yang datangnya melalui wahyu Allah swt. Ilmu ini menyingkap hakikat alamiah manusia dan menjawab setiap pertanyaan abadi yang pernah hilang pada diri manusia yaitu: dari mana, kemana, an mengapa. Dengan adanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, manusia akan mengetahui asalnya, arah perjalanan yang harus ditempuh dan tujuan hidupnya. Ia akan mengetahui dirinya dan tuhannya serta akan tenang menuju tujuan hidupnya. Aspek inilah yang pertama kalidisebut ilmu, bahkan disebut ilmu yang paling tinggi oleh Ibnu Abdil Barr.
    2. Aspek Humaniora (manusia) dan kajian-kajian yang berkaitan dengannya.
      Ilmu yang membahas tentang segi-segi kehidupan manusia yang berhungunan dengan tempat tingal dan waktu. Ilmu ini mengkaji manusai sebagai individu ataupun anggota masyarakat dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya.
    3. Aspek material
      Yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari berbagai materi yagn bertebaran diseluruh jagat raya ini, baik di udara, darat,maupun di dalam bumi seperti fisika, kimia, biologi , astronomi, dsb.
    Pengertian Islam tentang ilmu ini tidak terbatas pada aspek terakhir yang menganggap materisebagai objeknya seperti yang dipahmioleh dunia Barat pda umumnya sekarang. Selain itu, Islam menganggap aspek material akan melahirkan keimanan bagi yang mendalaminya. (Q.S. 3: 190-191)

    Ilmu dan Urgensinya