Ku ayun langkahku dengan sepenuh peluh yang menetes di kening. Semoga pertemuan hari ini mampu menjadi obat kerinduanku pada ukhuwah. Mencoba menantang mentari yang angkuh bersinar dengan teriknya. Hh, dia masih saja angkuh dengan sengatnya, masih tak berwelas asih dengan makhluk kecil ini. Tapi setidaknya aku bersyukur atas indah karunia yang Kau ciptakan pada kami ya Rabb sehingga dunia ini begitu terang, hanya hati kami yang masih merenda dalam kegelapan, tunjukkan pula sinar pada hati-hati kami ya Rabb. Aamiin.
Seperti pagi tadi, mimpi bahagiaku merenda rajutan benang-benang keimanan bersama sahabatku pupus sudah.
"Tuut...tuut...tuut..." nada sambung dari seberang. Ku coba menghubungi sahabatku, Dwi, berharap ia bisa mengikuti pertemuan akbar bersama kader al-Ishlah pagi ini.
"Hallo, ada apa cek..." terdengar suara lembut dari seberang setelah teleponku yang kelima.
"Hari ini tandingnya mulai jam berapa?" tanyaku.
"Jam 8 cek, ni juga barusan nyampek, kenapa cek?" cekgu, itu panggilan darinya untukku, sangat jauh dari nama asliku, hh,, ntahlah. Kadang-kadang nama panggilan lebih populer dari nama asli.
"Gak papa, aku boleh liat ya...
"Boleh banget. Emang acaranya mulai jam berapa cek?," tanyanya mengenai agenda temu kader hari ini.
"Boleh banget. Emang acaranya mulai jam berapa cek?," tanyanya mengenai agenda temu kader hari ini.
"Jam 8, tapi sekarang aku lagi sarapan nih. Kamu dimana?"
"Di aula dinas. Belum ada orang tau cek. Aku datengnya kepagian nih. Saking semangatnya...hihi..."
"Iya, kalo acara begituan aja semangate puol, tapi coba acara untuk ruhiyah, datengnya males banget." kataku merujuk.
"Hehe, ya enggaklah cek. Cekgu masih dikosn kan?, aku kesana ya..."
"Iya,,," tut..tut..tut... dan teleponpun ditutup.
Ku amati lekat nasi di piringku bersama tempe goreng yang tinggal beberapa suap. Hh, andai kau tau, betapa aku merindu perjumpaan dengannya di majelis-majelis Allah.
"Semoga usaha ku hari ini membawa kebermanfaatan." Gumamku pada butir-butir nasi yang menunggu giliran masuk ke penggilingan.
***
"Weh, berarti besok lanjut dong tandingnya? Menangin ya noq..." sapaku antusias menyambut kemenangannya mengalahkan lawan.
"Sip deh, tar kalo menang makan-makan deh, hehe. Tapi tadi tu gak ada apa-apanya tau cek. Keringetan aja enggak, apaan main badminton kok centil kaya gitu." jawabnya penuh optimis.
"Ya untungkan, berarti kesempatan menang makin besar, hehe. Em... kan tandingnya hari ni udah selesai, berarti bisa ikut TKP dong?" bujukku. Mencoba memasukkan dakwah fardhi-ku.
"Em, gak tau juga cek. Aku pengen liat lawan-lawanku, seberapa besar kemampuan mereka. Lagian aku nggak bawa rok item sama kado."
"Hem, itu mah emang alasan yang udah kamu rancang dari rumah." jawabku mewakili kekecewaan yang menggeliat di bilik-bilik hatiku.
Dia hanya diam tak bersuara. Disepanjang jalan menuju masjid itu kami hanya terdiam, tapi hati-hati kami saling berseteru. Oh Allah, runtuh sudah harapanku hari ini. Semoga ini bukan karena Kau tak menghendaki hidayah atasnya. Semoga bukan, semoga ini hanya masalah waktu dan proses. Semoga ya Allah...
Aku melepasnya dengan penuh ketidakrelaan, nafasku sesak dipenuhi rindu dan kekecewaan. Berharap suatu saat kita kan bersama dalam rajutan benang-benang ukhuwah islamiyah. Padukanlah hati kami dalam indahnya naungan cinta-Mu, bertemu dalam ketaatan, berpadau dalam kebenaran, menegakkan syariat-Mu dalam kehidupan. Kuatkanlah Ikatannya kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam, Ya Rabb Bimbinglah kami...Aamiin
Written at 17.30, Friday, 30 December 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar